Pages

pop up like facebook

adsense

Kamis, 08 Januari 2015

Bisnis Fashion Batik Hj. Riesye Sapi’ie

Berbisnis selalu memiliki cerita. Tak terkecuali cerita Hajah Riesye Sapi’ie (45) ketika mengawali bisnis fashion batik tahun 1980 lalu. Saat itu, menurut Riesye, belum ada sedikitpun tersirat dibenaknya bahwa kelak akan membuka usaha, terlebih usaha fashion batik. Ia mengaku hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, yang kebetulan menyukai kain batik.Kesukaannya dengan kain batik bukan tanpa sebab. Nenek dan ibunya, adalah dua wanita yang mengenalkan kain batik kepadanya.

“Saya sering melihat ibu dan nenek saya mengenakan kain batik sehari-hari. Mereka terlihat anggun dan sangat istimewa, terlihat sangat Indonesia,” ujar Riesye kepada majalah Wirausaha dan Keuangan beberapa waktu lalu.
Kesukaannya kepada batik kian besar ketika sang nenek memberikan kain batik bekas kepadanya. Kain batik itu kemudian dipotong-potong dan dijahit menjadi baju dengan disain Riesye sendiri.
Saat memakai baju buatannya sendiri, yang terbuat dari bahan kain batik bekas pemberian sang nenek,  teman-temannya banyak yang menyukainya. Ia tak dapat menolak ketika seorang temannya minta dibuatkan baju serupa seperti miliknya. Beberapa teman lainnya juga mengorder untuk dibuatkan baju batik. Semenjak itulah ia mulai menyadari bahwa teman-temannya mulai ada yang menyukai disain dan jahitan baju batik yang dibuatnya, dan saat itulah ia mulai menyadari bahwa kemampuannya membuat baju batik merupakan peluang bisnis yang menarik.   

Ikhwal kemampuannya mendisain fashion dengan bahan baku kain batik, Riesye mengaku tidak belajar khusus untuk itu. Ia hanya suka mencoba-coba dan belajar secara otodidak cara mendisain baju dengan bahan baku batik yang baik.

Orisinil
Dalam memproduksi fashion batik, Riesye selalu menempatkan kualitas produk sebagai hal yang harus diperhatikan. Bahkan untuk mendapatkan kualitas fashion batik yang baik, Riesye rela berburu bahan baku kain batik ke berbagai daerah dengan motif-motif orisinil dari daerah-daerah tersebut, seperti motif garutan dari Garut,  motif  dari Banyumas, motif dari Madura yang cerah, dan motif-motif kain batik dari beberapa daerah lainnya, termasuk motif khusus dari Sragen dan Pekalongan.
Dari berbagai bahan batik tersebut ia kemudian mendisain fashion yang sesuai dengan selera pelanggannya.  Ada konsumen anak-anak muda yang menyukai warna-warna terang dan cerah, dan ada fashion dengan segmen bagi para professional.

“Saya sekarang mulai menyesuaikan dengan selera pasar yang suka warna-warna cerah dan ngejreng bagi pelanggan-pelanggan saya yang masih berusia muda, bahkan saya juga mulai bermain-main dengan warna-warna yang kontras yang saya padukan dengan warna lain di disain sebuah fashion,”  cetusnya.

Menurut Riesye, motif kain batik boleh terlihat konservatif dan kuno, tetapi soal disain harus terupdate dan mengikuti perkembangan dan selera pasar. Rencananya Riesye akan segera meluncurkan produk-produk fashion batik dari kombinasi bermacam-macam motif batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pasar yang Besar
Riesye optimis mampu mengembangkan bisnis fashion batik ini di tanah air. Salah satu yang mendorongnya untuk tetap eksis menggeluti bisnis ini adalah karena kecintaannya kepada batik.

Karena batik, menurutnya adalah jenis fashion yang dapat digunakan dimana saja dan kapan saja. Minat masyarakat untuk mengenakan pakaian batik juga terus meningkat. Para karyawan, anak-anak sekolah dan mahasiswa juga semakin mencintai batik.

Pernah dalam sebuah pameran di Nusa Dua, Bali,  setahun yang lalu, Riesye bertemu dengan pelanggannya dari Singapura. Pelanggan setia itu membeli satu stelan dress batik untuk diantarkan ke kamarnya. Saat mengantarkan pesanan dress batik ke kamar pelanggannya tersebut Riesye tidak hanya membawa satu stel dress yang sudah dipesan, tetapi membawa lima dress batik dengan corak yang berbeda untuk ditawarkan kepada pelanggannya tersebut. Ternyata kelima-limanya dress batik yang dibawa Riesye dibeli semua oleh pelanggan tersebut.

Ingin tahu siapa nama pelanggan tersebut, Riesye meminta kartu nama pelanggannya. Ternyata pelangganya asal Singapura tersebut  adalah istri mantan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong.

Dukungan BRI
Hj Riesye sangat mengapresiasi peran PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dalam mendukung pengusaha UKM seperti dirinya. Riesye selain mendapatkan kredit untuk mengembangkan usahanya dari BRI,  ia juga diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai pameran bisnis.
Menurut Riesye, BRI bukan hanya membantuk promosi produk UKM, tetapi menaikkan  derajat para pengusaha UKM. Banyak orang memandang UKM dengan sebelah mata, padahal, jika diberi tempat yang representatif, UKM juga bisa tampil menawan, terlebih produk-produk UKM sekarang juga bagus-bagus.

Sumber :




0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Berwirausaha. All Rights Reserved. Template by CB Blogger. Powered by Blogger.