Berbisnis selalu memiliki cerita. Tak
terkecuali cerita Hajah Riesye Sapi’ie (45) ketika mengawali bisnis fashion
batik tahun 1980 lalu. Saat itu, menurut Riesye, belum ada sedikitpun tersirat
dibenaknya bahwa kelak akan membuka usaha, terlebih usaha fashion batik. Ia
mengaku hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, yang kebetulan menyukai kain
batik.Kesukaannya dengan kain batik bukan
tanpa sebab. Nenek dan ibunya, adalah dua wanita yang mengenalkan kain batik
kepadanya.
“Saya sering melihat ibu dan nenek saya
mengenakan kain batik sehari-hari. Mereka terlihat anggun dan sangat istimewa,
terlihat sangat Indonesia,” ujar Riesye kepada majalah Wirausaha dan Keuangan
beberapa waktu lalu.
Kesukaannya kepada batik kian besar
ketika sang nenek memberikan kain batik bekas kepadanya. Kain batik itu
kemudian dipotong-potong dan dijahit menjadi baju dengan disain Riesye sendiri.
Saat memakai baju buatannya sendiri,
yang terbuat dari bahan kain batik bekas pemberian sang nenek,
teman-temannya banyak yang menyukainya. Ia tak dapat menolak ketika
seorang temannya minta dibuatkan baju serupa seperti miliknya. Beberapa teman
lainnya juga mengorder untuk dibuatkan baju batik. Semenjak itulah ia mulai
menyadari bahwa teman-temannya mulai ada yang menyukai disain dan jahitan baju
batik yang dibuatnya, dan saat itulah ia mulai menyadari bahwa kemampuannya
membuat baju batik merupakan peluang bisnis yang menarik.
Ikhwal kemampuannya mendisain fashion
dengan bahan baku kain batik, Riesye mengaku tidak belajar khusus untuk itu. Ia
hanya suka mencoba-coba dan belajar secara otodidak cara mendisain baju dengan
bahan baku batik yang baik.
Orisinil
Dalam memproduksi fashion batik, Riesye
selalu menempatkan kualitas produk sebagai hal yang harus diperhatikan. Bahkan
untuk mendapatkan kualitas fashion batik yang baik, Riesye rela berburu bahan
baku kain batik ke berbagai daerah dengan motif-motif orisinil dari
daerah-daerah tersebut, seperti motif garutan dari Garut, motif
dari Banyumas, motif dari Madura yang cerah, dan motif-motif kain batik dari
beberapa daerah lainnya, termasuk motif khusus dari Sragen dan Pekalongan.
Dari berbagai bahan batik tersebut ia
kemudian mendisain fashion yang sesuai dengan selera pelanggannya. Ada
konsumen anak-anak muda yang menyukai warna-warna terang dan cerah, dan ada
fashion dengan segmen bagi para professional.
“Saya sekarang mulai menyesuaikan
dengan selera pasar yang suka warna-warna cerah dan ngejreng bagi
pelanggan-pelanggan saya yang masih berusia muda, bahkan saya juga mulai
bermain-main dengan warna-warna yang kontras yang saya padukan dengan warna
lain di disain sebuah fashion,” cetusnya.
Menurut Riesye, motif kain batik boleh
terlihat konservatif dan kuno, tetapi soal disain harus terupdate dan mengikuti
perkembangan dan selera pasar. Rencananya Riesye akan segera meluncurkan
produk-produk fashion batik dari kombinasi bermacam-macam motif batik dari
berbagai daerah di Indonesia.
Pasar yang Besar
Riesye optimis mampu mengembangkan
bisnis fashion batik ini di tanah air. Salah satu yang mendorongnya untuk tetap
eksis menggeluti bisnis ini adalah karena kecintaannya kepada batik.
Karena batik, menurutnya adalah jenis
fashion yang dapat digunakan dimana saja dan kapan saja. Minat masyarakat untuk
mengenakan pakaian batik juga terus meningkat. Para karyawan, anak-anak sekolah
dan mahasiswa juga semakin mencintai batik.
Pernah dalam sebuah pameran di Nusa
Dua, Bali, setahun yang lalu, Riesye bertemu dengan pelanggannya dari
Singapura. Pelanggan setia itu membeli satu stelan dress batik untuk diantarkan
ke kamarnya. Saat mengantarkan pesanan dress batik ke kamar pelanggannya
tersebut Riesye tidak hanya membawa satu stel dress yang sudah dipesan, tetapi
membawa lima dress batik dengan corak yang berbeda untuk ditawarkan kepada
pelanggannya tersebut. Ternyata kelima-limanya dress batik yang dibawa Riesye
dibeli semua oleh pelanggan tersebut.
Ingin tahu siapa nama pelanggan
tersebut, Riesye meminta kartu nama pelanggannya. Ternyata pelangganya asal
Singapura tersebut adalah istri mantan Perdana Menteri Singapura Goh Chok
Tong.
Dukungan BRI
Hj Riesye sangat mengapresiasi peran PT
Bank Rakyat Indonesia Tbk dalam mendukung pengusaha UKM seperti dirinya. Riesye
selain mendapatkan kredit untuk mengembangkan usahanya dari BRI, ia juga
diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai pameran bisnis.
Menurut Riesye, BRI bukan hanya
membantuk promosi produk UKM, tetapi menaikkan derajat para pengusaha
UKM. Banyak orang memandang UKM dengan sebelah mata, padahal, jika diberi
tempat yang representatif, UKM juga bisa tampil menawan, terlebih produk-produk
UKM sekarang juga bagus-bagus.
Sumber :
0 komentar:
Posting Komentar